Cerpen

1 06 2011

Iklan




Sebuah Penantian

25 05 2011

Cerpen Aulia Maulana Putra – SMAN 12 Padang

 “Dinda, maukah engkau menerima cintaku yang tulus ini?”

“Hmmm, gimana ya, emang kamu serius?”

“Iya, apapun akan aku berikan”

Dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Itu artinya kami berdua telah jadian. Ini yang aku tunggu-tunggu, akhirnya dia mau menerima cintaku. Tapi tiba-tiba dia membawakan aku seember air dan dia menyiram ke wajah ku tanpa sebab, dan…

“Byuuuurrrr….” dengan suara keras ibu sambil menyiram ku dengan seember air “Bangun Ade, kamu tidak pergi sekolah?”.  Aduh,  sudah mimpi enak tadi, pake acara disiram, basah semua nih aku yang repot jadinya.

Lalu aku berbicara kepada ibu dalam kondisi setengah sadar. “Bisa agak lembutan dikit ngak cara banguninnya bu? Kasar amat”

Ibu menjawab dengan sambil membawa ember bekas siraman tadi. “Ibu sudah membangunkan kamu, kamu sendiri yang tidak bisa di bangunin, ya terpaksa ibu siram. Cepat bangun, bergegas mandi”.  Sambil mengucek mata aku bangun dari tempat tidurku dan segera mandi.

Dasar, sudah enak-enak mimpi indah malah dibangunin. Tapi,  kalau dipikir-pikir itu kan hanya mimpi, belum tentu benaran diterima cinta aku sama si Dinda. Aku bergegas menuju kamar mandi. Di pintu kamar mandi “tok…tok..tok.., siapa di dalam, ?”

“Kakak, benter kakak lagi keramas”. Dasar anak cewek, mentang-mentang rambutnya panjang, rambut aja yang dipikirin. Akhirnya kakak ku yang cantik ini keluar sambil mengelap rambutnya yang panjang.

“Kenapa lama kak?” yang dia jawab hanyalah cibiran. Dasar kakak suka begitu, giliran ditanya baik-baik malah jawabnya nggak baik. Aku bergegas mandi, lalu semuanya kelar dan aku siap untuk pergi ke sekolah, tidak lupa pamit sama ibu dan ayah. Aku langsung tancap gas, dan di simpang menuju sekolah  aku melihat Dinda sedang menunggu ojek. Sekolah kami masuk ke dalam agak jauh, tidak ada angkot yang lewat di sana. Lalu aku menawarkan tumpangan ke padanya, dan dia mau.

Di perjalanan menuju sekolah, kami berdua bercandatawa. Tanpa terasa kami sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kami berdua datang tepat waktu, karena bel baru saja berbunyi.

Kami berdua kebetulan sekelas, jadi menuju kelasnya berbarengan. Kami berdua berjalan seperti pasangan pengantin yang baru menikah,  sampai kapan aku harus menanti cintanya. Kadang-kadang aku patah semangat, karena terlalu banyak saingan. Bagaimana tidak, dia kan seleb di sekolah ini. Banyak cowok yang  mengejar dia. Sedangkan  aku, hanyalah seorang cowok yang sederhana. Tapi aku harus tetap semangat, walau badai menghantam, ombak pecahkan karang, seberat apapun rintanganya aku harus dapatkan hati si Dinda.

Kami berdua sampai di kelas, jam pertama adalah pelajaran fisika. Guru fisika ini terkenal dengan ketegasannya. Beliau paling tidak suka dengan murid yang tidak membuat tugas.

Bapak memberi kode dengan sedikit batuk kecil dan suara kami sekelas seperti ribuan tawon ini serentak hilang, seakan-akan suara jangkrik yang terdengar, “Anak-anak bapak sudah memberi kalian tugas, sekarang kalian kumpulkan di meja bapak”

Huft… syukur aku sudah mengerjakannya. Semalam aku membuatnya, mungkin itu yang membuat ku bangun telat. Aku mengacak-acak tas sampai-sampai mengeluarkan semua isi tas, dan hasil nya tugas itu tidak ada. Aduh… pasti ketinggalan, ini semua salah kakak jadi terburu-buru aku jadinya. Ketinggalan deh, dipikir ini semua memang salah ku, yang bisa ku lakukan sekarang adalah pasrah, siap menerima caci maki dari bapak ini.

Dengan logat batak nya yang khas, si bapak berbicara kepada ku. “Ade, mana tugas kau”.

Aku menjawab tidak karuan, mata ku sudah lari kemana-mana, aku pusing untuk mencari alasan, dengan kepasrahan aku menjawab “tinggal pak..”.

Bapak itu menarik nafas dalam-dalam dan berteriak di depan wajah ku dan berkata “Aaaaddeeeeeee….”, seolah-olah kelas ini akan hancur dibuatnya. Aku hanya bisa memejamkan mata, dan si bapak terus mencaci-caci ku.

Tapi setelah di pikir-pikr ini semua bukan cacian, melainkan sebuah nasehat yang pahit. Bukan kata-katanya yang pahit, tapi cara penyampaiannya. Setelah selesai dan si bapak berkata dan menunjuk ke depan “Berdiri kau di depan.” Aku berjalan kedepan sambil mengelap wajah ku. “Berdiri sampai jam bapak berakhir,” sambungnya.

Huft… syukur hukumannya hanya seperti ini. Kemaren teman aku tidak bikin tugas, di jemur di halaman sekolah sambil hormat ke bendera. Untung aku tidak di jemur. Sambil mendengarkan bapak yang sedang menerangkan pelajaran, aku juga melihat pemandangan enak di depan sini. Siapa lagi kalau bukan Dinda yang aku lihat, wajah nya mengalihkan duniaku. Tiba-tiba dia melirikku, dia memberikan senyuman manisnya ke arah ku, mungkin dia memberikan semangat kepada ku, lalu aku membalas dengan senyuman juga. Tanpa disadari dia si bapak berbicara kepadaku “Ade.. ngapain kau cengar-cengir…?”

“Aku lagi melihat si cantik Dinda pak” serentak sekelas heboh dengan suara teriakan siul dan “Ciiiieeehhhh..” Aku tersipu malu. Sial kok yang aku pikirkan hanya Dinda. Sejenak ku melihat Dinda, dia hanya senyum , huft… syukur dia tidak marah..

Satu jam pelajaran, buset jam pelajaran bapak kan 3 jam. Ah.. masih ada 2 jam lagi. Lagi-lagi suara keras dan kental akan logat batak nya ini terdengar lagi. “Kau mau duduk Ade?!” ia memberikan aku kesempatan untuk bisa duduk, karena aku cukup hebat di fisika. Bapak memberikan aku beberapa soal yang harus di kerjakan “Ade coba kau buat di papan tulis jawaban  nomor 35 dan 36!”

Soal yang ke 35 dan 36 adalah azas black, kalau ini sudah lama aku pelajari. Dengan cekatan aku mengerjakannya. Teman-teman ku sekelas takjub melihatku, aku terlihat lancar mengerjakan soal ini. Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk menyelesaikannya.

Lalu si bapak melihat dengan menurukan kaca matanya. “Ternyata hebat juga kau De, silahkan duduk!”. Dengan perasaan lega aku boleh duduk, aku duduk di sebelah teman ku semasa SMP. Sambil memukul bahu ku, Fajri teman sebangku ku berbicara ke padaku.

“Kamu beruntung ya De, hanya  itu hukumannya. Aku saja kemarin di jemur sama bapak, andaikan aku juga hebat fisika seperti mu, tidak bakalan di jemur. “Ah, biasa aja kok Jri, kalau pengen hebat ya berlatih soal terus!”.

Aku hanya tersenyum dengan pujian si Fajri. Fajri kembali berbicara ke padaku “Oh iya, kamu suka ya sama Dinda…?” dengan perasaan sedikit malu, aku menjawab tidak. Aku terpaksa berbohong, karana aku tak ingin orang tahu tentang perasaan ini.

“Jujur aja deh De. Jangan bohongin perasaan kamu sendiri, kan tadi sudah ada buktinya. Sebaiknya kamu harus nembak dia deh, kalau kamu pendam-pendam terus perasaan itu, nanti kamu bisa kepikiran dia terus”.

Yang di bilang oleh Fajri itu memang benar, aku sudah lama suka sama dia. Kalau perasaan ini aku pendam, aku bisa gila Dinda, aku harus berani untuk menyatakannya. “Oke lah Jri, aku usahakan,” janjiku.

Jam di dinding kelas sudah menunjukkan pukul 2 siang, akhirnya bel pulang berbunyi juga. Di rumah aku lansung ke kamar dan meratapi kejadian tadi. Mungkin memang perasaan ku yang tak bisa di tebak. Aku tidak boleh membiarkan perasaan aku ini. Besok aku harus bisa menembak Dinda. Tapi, bagaimana caranya? Oh iya, kakak aku yang cantik kan ada. Minta tolong ke dia aja. Kakak kan sudah lama hidup dari aku, pasti dia banyak pengalaman ketika SMA. Mumpung dia tidak kuliah, aku tanya ke dia ah. Aku mengetuk pintu kamar kakak, lalu kakak memperbolehkan aku masuk. Aku menceritakan semua tentang Dinda. Aku bercerita cukup lama, ternyata kakak asyik juga buat di ajak curhat. Ini baru kali pertama aku curhat sama dia. Aku dapat saran dari kakak, katanya percaya diri aja.

Lalu aku berpikir-pikir, akhirnya aku dapat cara untuk nembak Dinda. Besok aku harus berbicara empat mata sama Dinda. Keesokan harinya, sepulang sekolah aku mengajak Dinda pergi makan. Dia mau saja menerima ajakan dari ku. Kami berdua pergi makan di cafe seberang jalan depan sekolah. Aku sih niat ngajak keluar, tapi motorku sedang dipakai sama kakak. Aku ngobrol dulu seputar Dinda, dulu aku sering traktir Dinda seperti ini, tapi sekarang ini spesial untuknya.

Kami berdua ngobrol-ngobrol seputar sekolah. Tidak hanya itu yang kami bahas, kami juga mengenang masa lalu ketika duduk di bangku SMP. Canda tawa di SMP maupun duka. Setelah ngobrol cukup lama dan makanan di atas meja sudah habis, aku langsung berbicara kepadanya tidak memperpanjang kata-kata aku langsung ungkapkan semuanya, dengan memegang tangannya.

”Din, kamu cantik, ramah, dan baik. Dari dulu aku mengagumimu tapi hati ini tak bisa mengatakannya. Sekarang saatnya din aku berbicara dari hati ke hati,” aku menarik nafas dalam-dalam dan aku nembak dia dengan penuh harapan.

Dinda hanya termenung dan melepaskan genggaman tangan ku dan dia berkata “Aku hargai ke tulusan kamu. Aku tahu kamu sangat ingin menjadi pacar ku, tapi aku tak mungkin memiliki mu. Karena hati aku ini telah di miliki orang lain, maaf ya De aku hanya ingin setia,” kata-katanya terdengar seperti lirik lagu band Armada (ingin setia).

Setelah itu Dinda lansung pergi meninggal kan aku, aku termenung kenapa nasib ku seperti ini terus. Selama ini aku mencari-cari pengisi hati ini, selama aku mencari pasti aku merasakan sakit yang amat sakit. Aku sudah lama menanti mu, tapi kamu tak mau mengerti.

Kata-kata itu terucap sambil memukul meja dan dan mengepalkan tangan. Lalu kulihat dia menyeberang dan tidak melihat kiri kanan, mungkin karena dia memikirkan perasaan ku padanya. Aku melihat sebuah mobil sedan yang merlaju cukup kencang. Aku langsung melihat ke arah Dinda yang tidak melakukan apa-apa. Lalu aku tidak berpikir panjang lebar, aku berlari menuju ke arah Dinda dan mendorongnya ke tepi jalan, dia terjatuh dan terhempas ke tepi jalan. Aku melihat kearah mobil yang berusaha menghentikan lajunya.

Decitan keras bunyi ban mobil terdengar memecahkan keheningan di siang itu. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Mobil itu berusaha mengerem, tapi semua itu sia-sia. Mobil itu tetap melaju kencang ke arah ku, dan akhirnya menabrak badanku. Aku terpelanting jauh dari tempat aku menyelamatkan Dinda dan berguling-guling di tanah. Aku sempat mendengar suara teriakan perempuan, mungkin itu Dinda “Addeeee….”. Setelah mendengar suara itu, aku tidak bisa apa-apa dan menutup mata. (*)